infodonasi@alhusna.org Call Center : 0341 531 832 0851 0004 3218

edisi 95

Nilai-Nilai Pendidikan Sosial Dalam Ibadah Zakat yang Perlu kita Perhatikan Zakat adalah mengeluarkan sebagian harta untuk diperuntukkan kepada orang yang memiliki hak atas harta yang kita miliki. Dalam ibadah zakat banyak memuat nilai-nilai pendidikan sosial, namun dalam ulasan berikut, kami akan membatasi dengan menyajikan beberapa diantaranya yang dipandang penting dan dapat menerangkan berbagai nilai-nilai yang ada pada ibadah zakat. Yaitu antara lain: Nilai taqwa Dalam Islam zakat merupakan pondasi yang sangat terpenting dalam mewujudkan tatanan masyarakat dan perilaku dalam masyarakat, zakat dapat diasumsikan sebagai manifestasi
kehidupan seseorang yang tergambarkan dengan gerak langkahnya dalam kehidupan sehari-hari. Zakat adalah barometer seseorang apakah dirinya taqwa kepada Allah ataukah durhaka kepada Allah. Seseorang bisa dikatakan sebagai orang yang taqwa, apabila dirinya telah memahami dan menyadari bahwa kewajiban melaksanakan ibadah zakat merupakan keharusan yang tidak perlu dipaksa. Menjalankan perintah zakat adalah bagian yang terpenting dari berbagai ibadah yang disyariatkan oleh agama. Ibadah ini mempunyai keistimewaan yang lebih, yaitu ibadah yang bisa berfungsi sebagai investasi di dunia dan bisa berfungsi sebagai investasi besok pada hari akhir. Ini bisa dilihat bahwa apabila seseorang yang enggan melaksanakan zakat maka orang tersebut menjadi bahan  gunjingan dan bahasan orang  lain, dan menjadi cemoohan orang lain, bisa dikatakan bahwa orang tersebut adalah orang yang kikir, bakhil dan sebagainya. Berbeda manakala orang yang telah menyadari bahwa zakat merupakan perintah Allah SWT yang harus ditunaikan bagi yang dianggap sudah memenuhi persyaratannya, orang itu akan disebut sebagai orang yang dermawan, baik hati, penyayang dan banyak orang yang menyenanginya. Dari dimensi ubudiyah bisa dipahami bahwa zakat tidak sekedar berhubungan dengan pertanggungjawaban di dunia, melainkan juga ada pertanggung jawaban di akhirat, seseorang tidak melaksanakan zakat padahal kaya dan termasuk orang yang diwajibkan untuk mengeluarkan zakat maka orang tersebut  akan  mendapat balasan di akhirat, kelak  di akhirat semua hartanya menjadi tungku dan arang yang akan membakar dirinya dan menyiksa dirinya sendiri. Dilihat dari fungsi zakat sebagai barometer taqwa maka seseorang harus benar-benar memahami esensial dari perintah tersebut. Zakat jangan hanya dipahami sebagai sebuah ibadah yang sakral saja tetapi lebih dilihat dari fungsi dan manfaatnya bagi masyarakat. Seseorang yang sudah memenuhi syarat untuk mengeluarkan zakat maka akan berfikir tentang bagaimana nasib orang-orang yang sedang kekurangan dan mengharapkan uluran tangan dari orang-orang yang berlebihan harta. Demikianlah harta yang dimiliki seseorang hanyalah  sebuah titipan dari  Allah, mereka disuruh untuk membelanjakan ke jalan yang diridhai-Nya, dan apabila tidak dibelanjakan harta itu pada jalan yang semestinya maka Allah akan menjadikan harta kekayaannya menjadi alat untuk menyiksa dirinya. Apabila dikaji secara mendalam bahwa seluruh harta benda yang dimiliki adalah sebuah bayangan karena orang yang dianggap memiliki tetapi sebenarnya tidak memiliki. Semua harta yang dianggap miliknya hanya sekedar titipan belaka, semua itu ada hak Allah yang harus dijalankan sesuai dengan kehendak-Nya. Maka bisa direnungkan apa sebenarnya nilai taqwa dalam ibadah zakat itu, seseorang bisa dikatakan bertaqwa apabila dirinya sudah merasa tidak mempunyai tanggungan hak- hak hablum minallah dan hablum minan nas yaitu hak kepada Allah dengan menjalankan ketaqwaannya dan hak kepada manusi dengan dirinya telah menjalankan kewajiban membayar zakat. Itulah sebenarnya taqwa yang dikehendaki oleh Allah yang mana  keseimbangan antara hak di dunia dan hak di akhirat adalah sama Nilai ukhuwah atau persaudaraan Sebagaimana yang diajarkan oleh para pendidik bahwa nilai yang paling banyak didengungkan adalah nilai ukhuwah atau persaudaraan, karena nilai inilah dianggap sebagai penyelamat agama bangsa dan negara, mengapa? Dengan nilai ukhuwah mewujudkan rasa persatuan dengan terwujudnya persatuan maka akan menguatkan dan  memperkokoh agama bangsa dan negara. Begitu juga nilai ukhuwah yang terkandung dalam ibadah zakat, dengan melaksanakan zakat maka seseorang akan terpupuk rasa sepersaudaraan sehingga memunculkan sikap rela membantu dengan mengorbankan segala yang dimilikinya. Selain itu dengan zakat akan memupuk  untuk  merasakan penderitaan sesama saudara muslim yang merasa kekurangan dengan memberikan bantuan modal supaya simiskin bisa bangkit dari keterhimpitannya. Itulah tujuan pelaksanaan zakat yang paling esensi. Dengan demikian bahwa persaudaraan adalah ikatan kejiwaan yang mewarisi perasaan mendalam tentang kasih sayang. Kecintaan dan penghormatan terhadap setiap orang yang diikat oleh perjanjian-perjanjian aqidah Islamiyah, keimanan, dan ketaqwaan. Perasaan persaudaraan yang benar ini melahirkan perasaan yang mulia didalam jiwa muslim untuk membentuk sikap-sikap sosial yang positif, seperti tolong-menolong, mengutamakan orang lain, kasih sayang dan  pemberian maaf serta menjauhi sifat-sifat negatif. Allah telah menegaskan dalam al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 10 bahwa seorang mu’min dengan mu’min lainnya adalah saudara. ini Bisa dipahami, seseorang tidak hanya mengakui orang itu saudaranya tetapi membiarkannya menderita, merasa kelaparan, merasa kekurangan dan sebagainya. Dalam ayat tersebut memberikan tuntunan agar sesame muslim harus saling bantu membantu dalam hal kebaikan dan bertaqwa kepada Allah karena pada dasarnya manusia berasal dari satu keturunan, antara seorang dengan orang lainnya terdapat pertalian darah, dekat atau jauh, tua maupun muda, kecil atau besar, tinggi maupun rendah, hitam atau putih kaya atau miskin, semuanya adalah bersaudara. Kewajiban untuk mengeluarkan zakat itu pada mulanya lahir karena adanya persamaan diantara pihak-pihak yang bersaudara, sehingga makna tersebut kemudian berkembang dan pada akhirnya ukhuwah diartikan sebagai “setiap persamaan dan keserasian dengan pihak lain, baik persamaan keturunan dari segi ibu, bapak, atau keduanya, maupun dari segi persusuan”. Hubungan persaudaraan menuntut bukan hanya sekedar mengambil dan menerima atau pertukaran manfaat, tetapi melebihi itu semua, yakni memberi tanpa menanti imbalan atau membantu tanpa dimintai bantuan. Kebersamaan dan persaudaraan inilah yang mengantarkan kepada kesadaran menyisihkan sebagian sebagian harta kekayaan untuk diberikan kepada orang yang membutuhkannya. Dengan demikian seseorang yang telah mengeluarkan zakat, maka secara sadar maupun tidak sadar orang tersebut telah membentuk kepribadiannya manjadi orang yang andil dalam menciptakan dan melestarikan nilai-nilai ukhuwah atau persaudaraan. Sperti layaknya zakat fitrah yang ditunaikan tiap bulan ramadhan, dimaksudkan untuk berbagi kesesama yang tidak memiliki pendapatan yang sama. Nilai solidaritas sosial Nilai solidaritas sosial adalah nilai yang mengandung berbagai aspek norma, baik itu norma
masyarakat dan norma agama, dari norma masyarakat, bahwasanya manusia tidak bisa lepas dari masyarakat karena manusia adalah mahuk sosial yang satu dengan lainnya saling membutuhkan dan hidup saling berdampingan, norma yang ada dalam masyakat ada yang tertulis dan ada pula yang tidak tertulis. Ini bisa dilihat dengan kebiasaan seseorang yang gemar mengeluarkan zakat maka orang tersebut tergolong orang yang mematuhi norma agama dan masyarakat, orang lain pasti akan memberikan predikat orang yang pemurah dan budiman. Dengan demikian seseorang yang sadar dan ihklas melaksanakan zakat maka termasuk telah mematuhi norma yang terkandung dalam agama dan masyarakat. Zakat merupakan ibadah dalam bidang harta yang mengandung hikmah dan manfaat yang begitu besar dan mulia baik yang berkaitan dengan orang yang memberi zakat maupun dengan sipenerima zakat. Harta yang dikeluarkan zakatnya adalah harta yang benar-benar harta yang bersih yang sudah tercuci dari hak-hak orang-orang yang berhak menerimanya. Dengan sikap sadar mengeluarkan zakat maka hal itu telah menunjukkan rasa  senasib  sepenanggungan  kepada masyarakat yang kurang mampu, maka dalam masyarakat akan tercipta dan terwujud rasa persatuan dan kesatuan yang kokoh. Pada pernyataan di atas menunjukkan bahwa manusia adalah mahluk sosial yang saling membutuhkan. Kebersamaan antara beberapa individu dalam satu wilayah membentuk masyarakat yang
walaupun berbeda sifatnya  dengan individu-individu tersebut, namun ia tidak dapat dipisahkan darinya. Dengan demikian bahwa pada dasarnya manusia terlahir di dunia mempunyai sifat solidaritas karena manusia tidak mungkin dapat mencukupi kebutuhan dirinya sendiri namun mereka membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya itu. Dalam hal ini zakat merupakan suatu hal yang sangat relefan sebagai sebuah tauladan hidup bermasyarakat, bahwasanya dalam kehidupan di dunia tidak  mungkin sama. Ada yang miskin dan ada yang kaya, sehingga bagaimana sikaya bisa membantu simiskin dengan hartanya, dan simiskin bisa membantu dengan tenaganya, maka ada keseimbangan antara simiskin dan sikaya, sehingga masing- masing tahu hak dan kewajibannya, maka akan tercipta rasa solidaritas sosial yang tinggi dalam hidup bermasyarakat. Rasa solidaritas sosial juga merupakan perwujudan keimanan kita kepada kepada Allah SWT. Nilai Solidaritas tidak hanya mencakup aspek hidup berdampingan saja tetapi lebih pada konteks bahwa hidup mempunyai makna yang lebih bermanfaat bagi masyarakat tersebut. Nilai solidaritas yang terkandung dalam ibadah zakat memberikan suatu tuntunan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat diharuskan saling menyadari masing-masing hak dan kewajibannya.  Sehingga apa yang dilakukan membuahkan hasil dan bermanfaat bagi masyarakat. Nilai Keadilan Menurut Islam bahwa pemikiran yang melandasi konsep keadilan itu berdasarkan pada asumsi bahwa, seorang individu bukanlah sepotong jiwa yang terisolir dan bebas melakukan apa saja yang ia sukai, tetapi seseorang yang terikat dalam sebuah tatanan universal yang harus menundukkan keinginan pribadinya kepada kesatuan organik keseluruhannya yang secara jelas dan transparan. Keadilan dalam Islam memiliki fundamental Illahiah dan berakar pada moralitas. Prinsip pertama dalam keadilan adalah berhubungan dan mengakui Tuhan sebagai pencipta. Kedua, adil adalah persamaan manusia dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi dan kultural yang didasarkan pada seperangkat nilai dan moral. Nilai keadilan itu bisa dirasakan agung dan berarti apabila sudah berinteraksi antara dua kutub yang saling membutuhkan, walaupun kebutuhan itu berbeda sifatnya antara yang satu dengan  yang lainnya, seperti orang miskin membutuhkan bantuan harta benda orang kaya, sementara orang kaya yang mempunyai rasa spiritual keimanan akan merasa berkewajiban untuk  memberikan zakat sebagai hak bagi orang- orang miskin. Inilah sebenarnya konsep keadilan yang ditawarkan oleh Islam, yaitu perimbangan bagi simiskin dan sikaya. Kalau menyadari perkembangan pada dekade ini sudah banyak melihat lembaga-lembaga yang menangani zakat, diantaranya adalah Bazis yang berfungsi untuk menampung, mengelola, dan menyalurkan harta zakat. Lebih jauh sebenarnya fungsi badan ini adalah meningkatkan kualitas dan pemerataan bagi perekonomian umat Islam. Maka dalam berbagai ayat Allah telah memperingatkan manusia agar jangan tergoda untuk hanya sekedar menumpuk-numpuk harta tanpa mau mengeluarkan zakat sebagai pensucian harta mereka, karena dengan memberikan zakat itulah dirinya telah terlepas dari siksa api neraka yang akan membakar dirinya besok di hari dipanaskan harta benda mereka, seperti firman Allah dalam surat at-Taubah ayat 34-35 “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahanam. Lalu dibakar dengannya dahi mereka, Lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka. “inilah harta bendamu yang  kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”. (QS. At Taubah: 34-35) Ayat di atas memberikan gambaran bagi mereka yang terlalu membangga-banggakan hartanya sehingga mereka merasa keberatan untuk mengeluarkan harta mereka. Maka Allah memberikan balasan bagi mereka dengan menjadikan semua harta yang ditimbunya itu menjadi api yang membakar dan menyiksa mereka sendiri, itulah balasan setimpal bagi mereka yang terlalu  mencintai harta mereka dan enggan mengeluarkan zakat. Dalam konteks ayat tersebut maka nilai keadilan memberikan pemahaman pada bahwa seseorang diajak untuk menseimbangkan antara kebutuhan dan keinginan di akhirat adalah sama, sehingga ada keselarasan di dunia dan di akhirat. Dengan demikian hidup di dunia merasa lebih bermakna dan berarti bagi orang lain. Dengan menseimbangkan kehidupan didunia maka orang menyadari hak-haknya dalam masyarakat. Pada kenyataannya manusia akan berada dalam keberagaman, bahkan akan terbagi kepada kaya dan miskin, kefakiran dan kemiskinan tidaklah mesti dapat dihilangkan, kecuali manusia mempunyai kekuatan yang sempurna (Ittihadah al-quwwah), memperoleh faktor-faktor penghasilan yang sama, berada dalam struktur lingkungan fisik dan pemikiran yang sama. Kesamaan dalam hal-hal tersebut adalah suatu yang sulit diterapkan kalau tidak dikatakan
mustahil. Karena manusia diciptakan oleh Allah mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, disamping lingkungan fisik yang tidak selalu sama. Oleh karena itu wajarlah kalau dalam masyarakat terjadi perbedaan dan kesenjangan dalam tingkat ekonomi. Jadi keadilan disini adalah keadilan yang melingkupi beberapa aspek pendidikan, ekonomi dan sosial. Mengapa karena keadilan ekonomi menurut Islam sangatlah penting karena sebagai pondasi pengembangan dan syi’ar Islam pada era globalisasi dan capitalisasi, yang mana ekonomi sebagai pertimbangan pertama untuk mengembangkan syi’ar Islam.   ipandang penting dan dapat menerangkan berbagai nilai-nilai yang ada pada ibadah zakat. Yaitu antara lain: selengkapnya...

EDISI 83


"Jangan Tunggu Kaya Untuk Bersedekah,Sebaliknya" Bersedekahlah Untuk Membuka Pintu Rezeki & Harta... Sedekah mengundang rahmat Allah dan menjadi sebab Allah buka pintu rezeki. Nabi s.a.w. bersabda kepada Zubair bin al-Awwam: “Hai Zubair, ketahuilah bahwa kunci rezeki hamba itu ada di Arasy, yang dikirim oleh Allah azza wajalla kepada setiap hamba sekadar nafkahnya. Maka siapa yang membanyakkan pemberian kepada orang lain, niscaya Allah membanyakkan baginya. Dan siapa yang menyedikitkan, niscaya Allah menyedikitkan baginya.” H.R. ad-Daruquthni dari Anas r.a.

Sedekah digandakan 700 kali ganda.
Fadhilah bagi orang yang bersedekah amat besar sebagai mana terdapat keterangan di dalam al-Quran dan hadits. Jika kita amati ayat al-Quran berikut, kita akan dapat mengira bahawa sekurang-kurangnya setiap harta yang dikeluarkan ke jalan Allah akan dibalas dengan perkiraan melebihi 700 kalinya. Selain itu, mereka dijanjikan dengan kehidupan yang mudah:
Allah Ta’ala berfirman: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki . Dan Allah maha luas (kurnia-Nya) lagi maha mengetahui” . (Al Baqarah (2) : 261)

Allah Lipat-gandakan Ganjaran orang yang Bersedekah.
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki mahupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)

Rezeki dimurahkan Allah s.w.t.
Firman Allah s.w.t.: “Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, pasti akan ditunjuki kepada mereka jalan keluar. Dan diberi rezeki kepada mereka daripada jalan yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupi baginya”. (At-Talaq:2-3)
Di dunia, mereka yang bersedekah akan dimurahkan rezeki oleh Allah dalam kehidupannya. Faedah ini dijelaskan oleh Jabir Abdullah katanya: “Rasulullah berucap kepada kami, sabdanya: Wahai umat manusia, bertaubatlah kepada Allah sebelum kamu mati dan segeralah mengerjakan amal salih sebelum kamu sibuk (dengan yang lain), dan jalinkanlah hubungan di antara kamu dengan Tuhan kamu dengan sentiasa mengingatinya (berzikir) dan banyakkan bersedekah secara bersembunyi atau terang-terangan, niscaya kamu diberi rezeki yang banyak, diberi kemenangan (terhadap musuh) dan digantikan dengan apa yang kamu dermakan itu dengan balasan yang berganda-ganda.” (Hadis riwayat Ibnu Majah)


Keberkahan Dalam Rezeki.
Kekayaan tidak membawa arti tanpa ada keberkahan. Dengan adanya  keberkahan, harta / rezeki yang sedikit akan dirasakan seolah-olah banyak dan mencukupi. Sebaliknya tanpa keberkahan akan dirasakan sempit dan susah meskipun banyak harta.

Kaya Jiwa
Kekayaan bukanlah sesuatu yang harus diidam-idamkan oleh seseorang Islam karena kekayaan bisa membawa kerusakan kepada seseorang sekiranya tidak menurut jalan yang benar. Islam lebih melihat kekayaan dari segi kekayaan jiwa. Hadis riwayat Abu Hurairah r.a.: Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: Kekayaan itu bukanlah karena mempunyai banyak harta tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa. (Sahih Muslim.)
Dari aspek harta-benda, kekayaan jika disalurkan ke jalan yang benar akan memberi seseoang pahala yang banyak, terutamanya jika digunakan untuk bersedekah.

Berzikir dan Banyak Bersedekah dalam Sembunyi dan Terang
Hadis berikut ini pula menyeru kita agar rajin bersedekah karena Allah akan memberi kita rezeki dan kesenangan melalui bersedekah. “Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah, sebelum kamu mati. Bersegeralah melakukan amalan amalan salih sebelum kamu kesibukan dan hubungilah antara kamu dengan Tuhan kamu dengan membanyakkan zikir kamu kepadaNya dan banyaklah bersedekah dengan bersembunyi dan terang-terangan, nanti kamu akan diberi rezeki, ditolong dan diberi kesenangan.” H.R Ibnu Majah.




Hakikatnya amalan memberi tidak akan membuatkan kita jatuh miskin. Kita terlalu banyak disogokkan dengan ekonomi barat yang mengatakan lebih banyak permintaan maka sumber akan berkurang. Sedangkan dalam ekonomi Islam, lebih banyak kita bersyukur maka lebih banyak rezeki hebat yang akan datang bagi menggantikan rezeki yang dibelanjakan pada jalan yang baik.
Memang benar, sedekah bukan hanya pada harta, namun amalan yang paling berat untuk kita banyak lakukan ialah sedekah dari sudut harta kekayaan.
Sedekah menambahkan harta dan kesejahteraan

Tidak akan pernah berkurang harta yang disedekahkan kecuali ia bertambah… bertambah… bertambah (HR.At-tirmidzi)

Siapa yang memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan balasannya dan baginya pahala yg mulia (QS. Al-hadiid 57:58)

Janganlah kamu takut kepada kemiskinan karena membelanjakan harta di jalan Allah (QS.Al-Baqarah 2:245)

Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sehingga kamu menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap diri sendiri. Dan Allah lah yang Maha Kaya sedangkan kamu orang-orang yang membutuhkan-Nya (QS.Muhammad :38)

Dan Allah senantiasa memberi pertolongan kepada hambanya selama ia menolong saudaranya (HR.Muslim)

Kita disarankan untuk memperbanyakkan amalan SEDEKAH, karena di dalamnya terdapat banyak rahasia dan antaranya adalah  :
1. Menyembuhkan berbagai penyakit.
2. Menjauhkan dari segala macam kesulitan & masalah.
3. Diselamatkan dari segala keburukan.
4. Menenangkan hati dan jiwa.
5. Melapangkan rezeki. Manfaat Sedekah Untuk Kesehatan Fisik dan Jiwa*  Dalam Alquran, Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bersedekah; baik dalam rangka jihad fi sabilillah, maupun membantu sesama. Namun tak semua orang mampu melihat kehebatan amalan yang sangat dianjurkan ini. Rasa cinta pada harta, sering kali menjadi penyebabnya. Awalnya, keterkaitan antara sedekah dan keimanan, dengan kesembuhan dari penyakit. Barulah penelitian James Andreoni pada tahun 1989 menunjukkan fenomena ekonomi “warm-glow-effect” (efek cahaya pemberi). Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana seseorang yang rajin beramal memiliki perasaan positif. Studi Jorge Moll dari National Institutes of Health di tahun 2006 menemukan, ketika seseorang berdonasi, beberapa area di otak yang berhubungan dengan kenyamanan, koneksi sosial, dan rasa percaya menjadi aktif. Para peneliti pun percaya bahwa ketika kita melakukan tindakan altruistik, otak akan melepaskan hormon endorfin. Hormon tersebut memicu “kemabukan” positif yang disebut “helper’s high”. Masih banyak penelitian yang menunjukkan efek positif dari sikap dermawan pada kesehatan. Seperti penelitian Stephanie Post yang dimuat dalam bukunya, Why Good Things Happen To Good People. Ia menyatakan bahwa berbagi dengan sesama dapat meningkatkan kesehatan, bahkan bagi penderita penyakit kronis semisal HIV AIDS. Menyimak hasil-hasil penelitian di atas, bisa dibayangkan betapa baiknya bila pendidikan tentang sedekah telah diberikan sedari usia dini. Tentunya generasi Muslim akan semakin berkembang karena terbiasa bersikap sesuai fitrah –menghadapkan diri pada agama yang lurus. Allah berfirman dalam Al-Baqarah ayat 271: “Jika kamu menampakkan sedekah (mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Dengan kata lain, terlepas dari bagaimana sedekah itu dilakukan (sembunyi-sembunyi atau terang-terang-terangan), sedekah tetap menjamin kebahagiaan dunia dan akhirat pada pemberinya. Amal tersebut juga mengundang rahmat Allah berupa ampunan atas dosa. Dari sini kita bisa mengerti, mengapa Abu Bakar Ash-Shiddiq ikhlas menyedekahkan seluruh hartanya, dan Umar bin Khattab sebanyak separuh dari hartanya pada Perang Tabuk. Hal lain yang bisa kita jadikan motivasi dalam berdekah, ialah hadis nabi di bawah ini: “Apabila anak Adam itu telah mati, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang saleh/salehah yang mendoakan kedua orangtuanya.” (HR. Muslim). *Disadur dari artikel “Fakta Sedekah: Makin Sehat dan Bonus Pahala”       selengkapnya...

EDISI 83

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar dari orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan [Âli ‘Imrân/3 : 186] Ujian adalah sunnah kauniyah (ketetapan Allâh Azza wa Jalla yang pasti terjadi) bagi setiap Muslim. Seorang Muslim tidak mungkin mengelak dari ujian tersebut. Oleh karena itu, Allâh memberi penekanan pada firman-Nya لَتُبْلَوُنَّ dengan menggunakan dua huruf (yaitu huruf lam dan nun yang bertasydid, sehingga makna kalimat tersebut, kamu sungguh sungguh atau benar-benar akan diuji).” Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata, “Firman Allâh (yang artinya), “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu” seperti firman-Nya (yang artinya) : Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘Inna lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn'[5] . Seorang Mukmin pasti akan diuji pada harta, jiwa, anak dan keluarganya.” Allâh Azza wa Jalla juga berfirman: Demikianlah, apabila Allâh menghendaki niscaya Allâh akan membinasakan mereka, tetapi Allâh hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain [Muhammad/47: 4] Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Demi yang jiwaku berada di tangannya! Dunia ini tidak akan fana, kecuali setelah ada seseorang yang melewati sebuah kuburan dan merenung lama di dekatnya seraya berkata, ‘Seandainya aku dulu seperti penghuni kubur ini.” Bukan agama yang mendorong dia melakukan ini namun hanya ujian saja” Kekokohan Iman Dan Kadar Ujian Selalu Berbanding Lurus
Semakin kuat iman seseorang, maka ujian yang akan diberikan oleh Allâh akan semakin besar. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh Sa’d bin Abî Waqqâsh Radhiyallahu anhu “Ya Rasûlullâh! Siapakah yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para Nabi kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar (kekuatan) agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan bertambah berat. Jika agamanya lemah maka akan diuji sesuai kadar kekuatan agamanya” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda: إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allâh mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka ia akan mendapat keridhaan-Nya. Siapa yang membencinya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya Mengapa Allâh Azza wa Jalla Mengabarkan Bahwa Ujian Ini Pasti Akan Terjadi?
Ada beberapa faedah yang bisa dipetik dari berita tentang kepastian ujian pada kita, di antaranya: Kita akan mengetahui bahwa ujian tersebut mengandung hikmah Allâh Azza wa Jalla . Yakni, dapat dibedakan siapa Muslim yang imannya benar dengan yang tidak.
2. Kita akan mengetahui bahwa Allâhlah yang menakdirkan semua ini.
3. Kita bisa bersiap-siap untuk menghadapi ujian itu dan akan bisa bersabar serta akan merasa lebih ringan dalam menghadapinya. Ujian Tidak Hanya Dengan Sesuatu Yang Buruk
Allâh Azza wa Jalla tidak hanya menguji seseorang dengan sesuatu yang buruk. Akan tetapi, juga menguji seseorang dengan sesuatu yang baik. Allâh Azza wa Jalla berfirman: كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan [al-Anbiyâ’/21 : 35] Terkadang seorang Muslim apabila ditimpa dengan musibah dan kesusahan, ia sanggup bersabar.Namun, begitu diberi kenikmatan yang berlebih, terkadang ia tidak bisa lulus dari ujian tersebut. ‘Abdurrahmân bin ‘Auf Radhiyallahu anhu pernah berkata: ابْتُلِينَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالضَّرَّاءِ فَصَبَرْنَا ثُمَّ ابْتُلِينَا بِالسَّرَّاءِ بَعْدَهُ فَلَمْ نَصْبِرْ Kami diuji dengan kesusahan-kesusahan (ketika) bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kami dapat bersabar. Kemudian kami diuji dengan kesenangan-kesenangan setelah beliau wafat dan kami pun tidak dapat bersabar Ujian Adalah Rahmat Dari Allâh Azza Wa Jalla
Ujian yang diberikan oleh Allâh Azza wa Jalla adalah rahmat (kasih sayang) Allah Azza wa Jalla kepada seluruh manusia terlebih lagi untuk kaum Muslimin. Allâh Azza wa Jalla berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu agar kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan yang bersabar di antara kamu, dan agar kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu [Muhammad/47:31] Dengan adanya ujian itu, akan tampak orang yang benar-benar beriman dengan yang tidak. Ini adalah rahmat dari Allâh Azza wa Jalla . Allâh Azza wa Jalla berfirman: أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami Telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? [al-‘Ankabût/29:2] Ujian Lain Yang Lebih Berat
Ternyata ada ujian yang lebih berat dari ujian pada harta dan jiwa. Allâh Azza wa Jalla berfirman: وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar gangguan yang banyak yang menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allâh [Âli ‘Imrân/3 : 186] Dengan penggalan ayat di atas, dapat diketahui ujian yang lebih berat daripada ujian yang telah disebutkan. Ujian yang lebih berat dari hal-hal tersebut adalah ujian yang menimpa agama (keyakinan) kita. Kalau kita memperhatikan makna ayat yang kita bahas ini, maka kita akan menemukan bahwa Allâh Azza wa Jalla telah mengurutkan ujian-ujian tersebut mulai dari yang cobaan yang lebih ringan dan dilanjutkan ke cobaan yang lebih berat. Ujian pada harta lebih ringan daripada ujian pada jiwa. Ujian pada jiwa lebih ringan daripada ujian pada agama. Seseorang bisa saja memiliki harta yang melimpah dan badan yang sehat, tetapi jika dia keluar dari agama Islam karena tidak tahan menghadapi cemoohan, gangguan serta teror orang-orang kafir. Ini merupakan satu bentuk kerusakan yang sangat besar baginya, baik di dunia maupun di akhirat. Orang-Orang Kafir Tidak Akan Berhenti Mengganggu Kaum Muslimin
Gangguan dari orang-orang kafir, baik berupa ejekan maupun gangguan fisik, pasti akan terus ada. Allâh Azza wa Jalla berfirman: وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ Sebagian besar Ahli kitab karena kedengkian mereka menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, setelah nyata bagi mereka kebenaran. [al-Baqarah/2:109] Cara Menghadapi Segala Ujian
Allâh Azza wa Jalla tidak akan membiarkan hamba-hamba-Nya terbengkalai, tidak terurus. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla mengajarkan kepada kaum Muslimin bagaimana cara menghadapi ujian tersebut. Allâh Azza wa Jalla berfirman: وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan [Âli ‘Imrân/3 : 186] Menghadapi semua ujian harus dengan kesabaran dan ketakwaan. Hukum bersabar dan bertakwa dalam menghadapi ujian bukan sunat, tetapi sesuatu yang wajib dikerjakan oleh seluruh orang Muslim. Setidaknya, dalam al-Qur’ân ada enam tempat di mana Allâh Azza wa Jallak menggabungkan kata kesabaran dan ketakwaan dalam konteks yang sama. Yaitu, dalam surat Ali ‘Imrân ayat 118, 125, dan 186, dalam surat Yûsuf ayat 90, dalam surat an-Nahl ayat 125 hingga 128 dan surat Thâhâ ayat 132. Ini menunjukkan bahwa kesabaran memiliki hubungan yang sangat erat dengan ketakwaan. Hasil Yang Didapatkan Dengan Bersabar
Orang yang dapat bersabar menghadapi semua ujian akan memperoleh hal-hal yang terpuji, di antaranya  : Dia akan mendapatkan pahala seperti para nabi yang memiliki keteguhan hati (ulul-‘azm). Dia akan mendapatkan keberkatan yang sempurna, rahmat dan petunjuk dari Allah. Allâh Azza wa Jalla berfirman yang artinya: “Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [al-Baqarah/2:157] Dia akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Allâh Azza wa Jalla berfirman yang artinya: “Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar” [Fushshilat/41: 35] Dia akan mendapatkan pahala tanpa batas. Allâh Azza wa Jalla berfirman yang artinya: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” [az-Zumar/39 : 10] Dosa-dosanya akan diampuni oleh Allâh Azza wa Jalla. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ Ujian itu akan selalu menimpa seorang hamba sampai Allâh membiarkannya berjalan di atas bumi dengan tidak memiliki dosa

Sumber: https://almanhaj.or.id/3450-setiap-muslim-akan-menghadapi-ujian-dan-cobaan.html selengkapnya...

Majalah Edisi 81

KISAH SAHABAT NABI, PERMOHONAN MAAF PALING INDAH Sangat manusiawi apabila kita berbuat salah. Namun kesalahan yang paling fatal yaitu kita tidak mau dan tidak ingin meminta maaf. Semoga kita semua termasuk orang-orang pemaaf dan selalu meminta maaf ketika berbuat salah. Amin....

Berbicara tentang salah dan maaf, ada sedikit cerita yang patut kita ketahui, patut kita ambil hikmahnya karena kisah cerita ini dari sahabat Nabi dan tentunya sangat menginspirasi bagi kita semua.

AL-KISAH. Para sahabat tengah berkumpul disebuah majlis, waktu itu Rasulullah tidak bersama mereka. Ada Khalid Bin Walid, Ibnu ‘Auf, Bilal dan Abu Dzar di Majlis itu. Mereka sedang membicarakan sesuatu, lalu Abu Dzar mengemukakan pendapatnya dan berkata,

“Menurutku… Pasukannya mestinya begini dan begitu.”

Bilal menyanggah, “Tidak, usulan yang keliru.”

Abu Dzar membalas, “Engkau juga wahai anak orang yang berkulit hitam menyalahkanku!?”

Bilal lalu berdiri, marah dan menyesalkan perkataan sahabatnya, dia lalu berkata,

“Demi Allah… Aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah

Bilal tiba dihadapan Rasulullah sambil mengadu,

“Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mendengar apa yang dikatakan Abu Dzar padaku?”

Rasulullah bertanya,

“Apa yang dia katakan padamu?”

Bilal menjawab, “Dia mengatakan begini dan begitu…”

Wajah Rasulullah kemudian berubah.

Abu Dzar mendengar hal ini. Dia bergegas ke masjid dan menyapa Rasulullah

“Assalamu Alaikum warahmatullah wabarakatuh, Ya Rasulallah.” Rasulullah menjawab, “Wahai Aba Dzar, apa dengan ibunya engkau menta’yirnya (menjelekkannya)? Sungguh pada dirimu ada kejahiliyaan.”

Abu Dzar sontak menangis, dia mendekat ke Rasulullah dan berkata,

“Wahai Rasulullah, mintalah kepada Allah agar mengampuniku.”

Sambil menangis, dia keluar dari masjid menemui Bilal yang sedang berjalan. Dia lalu membaringkan kepalanya sampai pipinya menempel ketanah dan berkata,

“Wahai Bilal. Demi Allah, aku tak akan mengangkat kepalaku sampai engkau menginjaknya dengan kakimu. Engkau adalah orang yang mulia dan aku orang yang hina!”

Hal ini membuat Bilal menangis. Dia mendekati sahabatnya, mencium pipinya dan berkata,

“Demi Allah, aku tak akan menginjak wajah yang pernah sujud kepada Allah.”

Mereka berdua lalu berdiri, berpelukan sambil menangis.

Adapun hari ini. Iya, hari ini. Sebagian diantara kita menyakiti saudaranya 10 kali dan dia tak mengatakan, “Maafkan aku, wahai saudaraku.”

Sebagian diantara kita mencela saudaranya, melukai prinsip dan hal yang paling berharga pada diri saudaranya dan dia tak mengatakan “Maafkan aku.”

Sebagiannya lagi melanggar kehormatan saudaranya, dan mendzhaliminha tapi malu mengatakan “Aku menyesalinya.”

Dan diantara kita ada yang menyakiti saudara dan temannya dengan tangannya tapi malu mengatakan “Aku menyesalinya.”

Meminta maaf merupakan tradisi orang yang mulia, meski sebagian menganggapnya menghinakan diri.

Semoga Allah memaafkan kita semua. Dan kami meminta maaf kepada semua yang pernah tersakiti dengan perkatan ataupun perbuatan kami.

“Tak ada kebaikan pada diri kita jika kita meninggal dalam keadaan belum saling memaafkan.”

Itulah sedikit kisah yang dapat kami share pada kesempatan ini, semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca semua. Tidak lupa kami juga memohon maaf kepada para donatur panti asuhan al husna manakala dalam pelayanan dan tulisan kami menyinggung perasaan dan hati anda sekalian..   selengkapnya...

majalah edisi 82

selengkapnya...

Buletin Edisi Juni 2013


Kebersamaan di surga tersebut tentu tidak mudah untuk dicapai, karena dalam kisah yang dijelaskan Alquran banyak keturunan/keluarga yang tidak lagi bisa bertemu di akhirat, seperti: Nabi Nuh dengan putra dan istrinya, Asiyah yang solehah dengan suaminya (Firaun), dan Nabi Luth dengan istrinya. Namun bertemunya  keluarga besar di surga bukan pula sesuatu yang tidak mungkin.
Allah menjelaskan dalam QS. Ar-Ra’d [13] : 18-21 kita bersama keluarga besar bisa bertemu di surga ‘Adn, asal dapat memenuhi delapan syarat.
selengkapnya...

Buletin Edisi 2013


Ingatkah kita pada saat kita masih lajang ? Saat-saat dimana kita lebih banyak dihadapkan pada kesenangan dan kegembiraan ? Hampir setiap saat yang ada di pikiran kita hanyalah bagaimana hati kita bisa selalu senang dan tidak ada rasa susah yang menghampiri kita. Kemana saja arahnya asalkan kita suka, tidak ada orang yang melarang. Hati akan terus senang walaupun tak punya uang. Sepeti lirik lagu Koes plus.
selengkapnya...

Buletin Edisi April 2012


meraih cinta Allah?

Setiap muslim pasti bercita-cita untuk mendapatkan cinta Allah. Sebab bila kita sudah menjadi kekasih-Nya, seluruh kebaikan duniawi dan ukhrawi bisa kita gapai dengan mudah. Persoalannya, bagaimana agar cita-cita tersebut menjadi kenyataan? Sesungguhnya banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menggapai cinta-Nya, namun karena keterbatasan lahan, kita akan membahas yang pokoknya saja.
selengkapnya...

Buletin Edisi November 2012




DOWNLOAD FILE BULETIN
selengkapnya...